Saatnya Orangtua Berevolusi

8:57 PM

Source: here


Jadi orangtua itu nggak gampang. Apalagi jadi orangtua jaman sekarang, dimana arus informasi seakan nggak terbendung. Jadi orangtua di jaman digital itu susaaah.

Saya sering dengar, orangtua terdahulu bilang, "Bocah jaman mbiyen kui podho wedi karo wongtuo, podho manut karo wongtuo. Bedo karo cah jaman saiki, podho wani karo wongtuo (anak jaman dulu itu takut sama orangtua, manut sama orangtua. Beda sama anak jaman sekarang, pada berani sama orangtua)."

Jaman sekarang jauh beda sama jaman dulu. Jadi orangtua pun harus punya pola pikir yang mengikuti perkembangan jaman. Orangtua harus berevolusi. Pola pikir orangtua selalu benar dan anak selalu salah itu harus dibuang jauh-jauh. Juga pemikiran dimana orangtua itu harus ditakuti, anak harus patuh sama semua perkataan orangtua. Dimana beda pendapat sama orangtua bisa jadi dianggap "berani" atau durhaka. Orangtua merasa superior, tak terkalahkan. Orangtua mengancam dengan hukuman fisik semacam "hayo kalo nggak mau belajar nanti ibu jewer loh". It's so last decade.

Lha anak jaman sekarang digituin bisa berontak kemana-mana. Mungkin ada sih yang tetep nurut depan orangtua, tapi di belakang orangtua siapa yang tahu. Bisa aja dia cari kebebasan di tempat lain. Ya kalo yang positif, kalo negatif? Ini bahayaaa. Dampaknya masa depan dong yah. 

Anak jaman sekarang dibilangin A sama orangtua, dia nggak langsung percaya. Cari informasi dulu lah itu omongan A bener apa nggak. Kalo A bener baru percaya. Kalo A ternyata nggak bener bakal dikomplain lah orangtuanya. Orangtua harus terima dikomplain kalo ternyata emang salah. ORANGTUA TIDAK SELALU BENAR DAN ANAK TIDAK SELALU SALAH.


Dulu kalo nggak mau tidur siang ditakut-takutin ada orang lewat bawa karung mau nyulik anak kecil. Anaknya percaya aja. Kalo jaman sekarang? Bisa jadi anaknya langsung nyamperin orang yang bawa karung dan tanya itu karung buat apa. Nah looo....orangtua harus lebih realistis.

Beda pendapat antara orangtua dan anak itu biasa. Anak kan juga manusia, yang pendapatnya butuh didengar. Kalo anak di rumah merasa pendapatnya nggak didengar, dia bisa cari tempat lain dimana pendapatnya didengar. Ya kalo lari ke hal positif? Kalo negatif? Bahayaaaa lagi kaan *sama kaya yang di atas haha

Beda pendapat dengan orangtua bukan berarti anak itu "berani" atau durhaka. Orangtua pengen anak kuliah kedokteran, tapi anak maunya kuliah teknik. Masa ya itu durhaka? 
Orangtua pengen anak jadi PNS, tapi anak pengen kerja swasta. Apa itu durhaka juga? 
Daaan segudang kasus lain dimana orangtua berpendapat A dan anak berpendapat B. Pendapat anak harus didengerin, tapi nggak semua diturutin juga. Dalam artian kalo anak punya pendapat yang positif orangtua turut mendukung. Tapi kalo negatif ya jangan dong. Inilah tugasnya orangtua untuk mengarahkan. Mengarahkan loh ya bukan menyalahkan. 


Ada pernyataan lagi saya pernah denger dari orangtua terdahulu, "Bocah wis diragadi akeh kok yo ora manut (anak udah dibiayai banyak tapi kok nggak nurut)"

Mari tengok dulu dari awal sebenarnya apa tujuan merawat anak. Tujuannya apa? Merawat anak biar anak manut dan nurut sama orangtua? Atau merawat anak untuk investasi masa depan?
Luruskan dulu niatnya. Orangtua harus ikhlas dalam merawat anak. Anak adalah amanah. Anak adalah tanggung jawab. Orangtua bertanggung jawab agar anaknya mandiri, bahagia dan bermanfaat di jalan yang benar (ini menurut saya loooh). Hingga dia bisa tetap menjalani hidup dengan baik walaupun orangtuanya udah nggak ada T___T  *bagian ini sedih

Nggak ada itungan untung rugi dalam merawat anak.
Apa salah kalo anak mandiri dengan caranya sendiri? Apa salah kalo anak bahagia dengan caranya sendiri? 
Egois sekali kalo orangtua tidak ikut bahagia ketika anaknya bahagia dengan caranya sendiri. Maunya anak bahagia dengan cara yang orangtua pilihkan.


Ikhlaas ikhlaas. Itu kuncinya. Jangan mengharap balasan apapun dari anak kecuali doa. Ini bagian yang susaaaaah banget pastinya. Sebagai orangtua terkadang pasti ada terselip pamrih di hati karena sudah merasa merawat dan membesarkan anak. Cukuplah doa anak untuk orangtua yang jadi balasan. 
"Ya Allah ampuni aku dan kedua orangtuaku, sayangilah kedua orangtuaku seperti mereka menyayangiku waktu kecil"
Itu sudah lebih dari cukup. *mbrambangi *cry
Ini kenapa jadi mellow gini siiiih? T___T

Tidak ada harapan yang lebih baik daripada doa dari anak soleh solehah yang pahalanya tetap mengalir walaupun orangtua sudah tidak di dunia.
T____T

Udaaah ah cukup bagian melow nya..

Ada lagi begini, "Kono nek ra manut karo wongtuo, mengko uripmu sengsoro" (ya sana kalo nggak nurut sama orangtua, nanti hidupmu sengsara)
Astaghfirullah, jangan sampe keucap kaya gitu. Karena ucapan orangtua itu sama dengan doa. Kasian anaknya. Apalagi marahnya seorang ibu. Semarah-marahnya sama anak, jangan sampe lah keucap kaya gitu. Apalagi sampe keucap, mbatin aja bisa kejadian.



***


Ada beberapa poin penting yang sedang dan akan saya terapkan untuk mba Alma (dan adiknya nanti. Hahaha mbuh kapan)


1. Memberikan kebebasan
Kebebasan di sini bukan berarti bebas sebebasnya. Tapi bebas yang bertanggung jawab. Bebas berpendapat, bebas memilih, bebas berekspresi, dll. Bebas untuk hal yang positif.  Meminimalisir larangan yang tidak perlu. Karena semakin anak terkekang, semakin anak pengen lepas dari orangtuanya.


2. Memberikan contoh yang baik
Sebelum ngajari anak, dipastikan orangtuanya melakukan dulu. Nggak diajari pun anak akan mencontoh perilaku orangtuanya. Nyuruh anak ngaji, lha orangtuanya juga nggak ngaji. Percumaaa dong.


3. Memberikan kesempatan
"Kamu nggak bisa naik sepeda itu"
Lhaaa anaknya belum coba kok udah ngejudge? 
Memberikan kesempatan pada anak itu sangat berarti. Biarin lah nyoba dulu, perkara berhasil atau gagal urusan belakangan. Dengan memberikan kesempatan berarti orangtua sudah memberi kepercayaan pada anak yang bisa membangun rasa percaya diri.


4. Memberikan kepercayaan
Ini lanjutan dari yang sebelumnya. Memberi kepercayaan dari hal yang kecil misal nyuci piring sendiri, berangkat sekolah sendiri sampe pada nantinya memilih pasangan sendiri. Orangtua percaya kalo anak bisa melakukan sendiri tanpa bantuan orangtua. Hindari kekhawatiran yang berlebihan seperti, "beneran mau cuci piring sendiri, nanti kalo pecah gimana?" "Berangkat sekolah sendiri? Nanti kalo diculik gimana?"


5. NO kekerasan
Percayalah kekerasan tidak akan membawa kebaikan apapun. 


6. Memberikan sanksi yang mendidik
Sanksi itu perlu. Agar anak disiplin. Tapi sanksinya yang mendidik dong. Sebisa mungkin sanksi diberikan sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan. 


7. Memahami karakter setiap anak
Jika punya anak lebih dari satu, orangtua wajib memahami karakter masing-masing anak. Karena setiap anak itu berbeda. Lha kembar aja beda karakter loh. Orangtua bisa saja memberikan perlakuan yang berbeda pada tiap anak sesuai dengan karakternya. Bukan berarti membeda-bedakan atau pilih kasih loh. Tapi semata-mata agar dapat berkomunikasi dengan baik. 


8. Orangtua bisa berperan sebagai apa saja
Orangtua bisa berperan menjadi apa saja agar anak merasa nyaman. Bisa jadi temen curhat, bisa jadi guru, bisa jadi lawan bermain, atau apa saja.


9. Memenuhi kebutuhan anak
Memenuhi kebutuhan bukan keinginan anak. Memenuhi kebutuhan anak pun disesuaikan dengan kemampuan orangtua. Butuh sepatu ya dibelikan sepatu, nggak harus yang mahal bermerk kalo nggak mampu. Gampangannya kaya gitu lah.


10. Mendukung potensi, minat dan bakat anak
Orangtua bertugas menggali potensi, minat dan bakat anak sejak dini. Kalo udah ketahuan baru deh ditindaklanjuti. Apakah minat dan bakatnya itu bisa untuk menghidupi dirinya di masa depan atau nggak? Kalo bisa ya didukung dan dikembangkan, tapi kalo nggak? Cari dan kembangkan bakat yang lain. Tapi jangan maksa loh ya. Jaman sekarang banyak kok profesi yang kelihatan sepele tapi nyatanya bisa menghidupi.


11. Orangtua bersikap tegas dan konsisten
Orangtua harus tegas dan konsisten dalam menerapkan aturan. Jangan mencla mencle. Kenapa? Ya biar anak nggak bingung dong. Anak butuh sosok yang tegas dan konsisten yang dapat dipercaya ucapan dan perbuatannya.


12. Menanamkan agama dan prinsip kebaikan
Semua poin lainnya menjadi sia-sia kalo poin ini sampe lewat. Semacam gini, anak percaya diri, pintar, sukses karir, ramah, bisa membawa diri tapi selingkuh tapi tukang judi -____-
Poin ini adalah pedoman hidup bagi anak. Dimana hidup itu bukan melulu tentang dunia, tapi juga akhirat.



Semata-mata agar anak merasa nyaman dan bahagia bersama orangtuanya. Bagaimana masalah berbakti sama orangtua? Anak yang nyaman dan bahagia tidak mungkin tidak berbakti sama orangtua. Sampai kapan pun anak tetaplah, dari bayi merah sampe udah punya cucu juga tetep anak. Mau dia jadi apa jadi apa, juga tetep anak. Jangan sampe menilai anak dari materi yang dia punya. Pun jangan mengecilkan hati anak karena dia kurang beruntung dalam hal materi. Doanya lah yang akan terus mengalir ketika kita sudah tidak di dunia.

**

Tulisan ini saya buat murni dari opini saya pribadi. Ibu muda sotoy yang anaknya baru satu, itu juga masih bayi. Sotoy banget ngomongin ginian. LOL.
Jadi orangtua nggak ada sekolahnya, tapi harus terus belajar. Belajar dari mana saja. Mungkin saya belajarnya baru sampe segini, masih cethek banget lah. Baru ngadepin anak susah makan aja, belum ngadepin anak remaja yang mendadak jadi rebel. Hahahaha.....

Kalo ada mau yang mau ngejudge saya apalah apalah, silahkan. Setiap orangtua memiliki aturan sendiri dalam mendidik anak. Dan mereka tahu apa yang terbaik buat anaknya.

Postingan ini saya buat sebagai pengingat diri saya sendiri dan suami. Eh yaa siapatahu lupa kalo dulu punya prinsip begini begitu. Karena yah wanita kadang emosinya suka nggak stabil, dikendalikan hormon sih. *nyalahin hormooon -___-

Sekian dan tutup laptop mapan turu. Ini postingan uda didraft dari seminggu yang lalu baru selesai. Zzzzzzzz -____-

-nuki-



You Might Also Like

0 comments

Popular Posts

About Me

Like us on Facebook

Flickr Images

Total Pageviews